Tuhanku gondrong…..

found an old writing of mine. jadi kangen nulis lagi. kapan ya?

—–
Tuhanku Gondrong sih…

Sebagai dobel minoritas yang hidup di Negara berkembang, saya paling sebel kalau ada yang nyombong-nyombongin agamanya di depan saya. Ganggu! Padahal saya bukanlah orang yang terlalu religius. Kalau ada yang bertanya kenapa saya beragama Kristen, saya pasti menjawab dengan bercanda “abis Tuhannya gondrong sih.. funky.” Atau “soalnya bisa makan babi.” Tentu saja ada alasan lain, tapi biarlah itu jadi urusan saya. Kalau ada yang protes dengan jawaban saya diatas, biarlah itu menjadi urusan mereka.

Jadi lain urusannya kalau ada orang yang berusaha meyakinkan saya kalau agama mereka lah yang paling benar, paling yahud, paling canggih, paling toleran, paling begini paling begitu. Segala ‘paling’nya dilihat dari mana dulu nih? Tentu saja banyak syarat yang mengikuti kata ‘paling’ tadi. Paling benar menurut si A. Paling yahud karena tidak perlu repot menjalani berbagai macam aturan. Paling canggih karena doanya tidak perlu diucapkan. Cukup dengan mengisi formulir saja. Paling toleran karena boleh makan segala jenis makanan yang ada, tanpa pantangan apapun. Wih, enak sekali kalau ada agama yang seperti itu.

Dulu waktu SD saya bermusuhan berat dengan seorang anak pendeta. Saya masih ingat, namanya Denny. Kalau ada pepatah mengatakan bagai anjing dan kucing, maka bagi kami pepatah itu tidak berlaku. Kalau anjing mengejar kucing, maka saya dan Denny tidak saling mengejar, tapi langsung berhadapan dan saling perang, entah itu pakai sapu, kemoceng, atau malah langsung tampar-tamparan dan gebuk-gebukan. Permainan keji ini baru berakhir kalau guru melerai, atau bel masuk kelas berbunyi. Setelah itu masing-masing akan menyimpan dendam dan strateginya untuk waktu istirahat berikutnya. Sebetulnya tidak jelas apakah yang menjadi pangkal permusuhan. Saya bahkan tidak ingat kenapa harus dia. Saya cuma ingat, setiap orang dewasa yang melerai pasti bilang “masa kamu berantem sama anak pendeta?” Loh .. memangnya kenapa? Apakah berantem sama anak pendeta bikin kualat? Apakah anak pendeta punya status yang lebih tinggi dibanding anak insinyur, atau dokter?

Sewaktu lulus SD dan masuk SMP, ternyata saya satu SMP dengan Denny. Karena gak kenal siapa-siapa, kami pun secara otomatis berbaikan dan mencari kelas baru berdua. Tidak, kami tidak sekelas, tapi sejak hari pertama di SMP itu kami berteman baik. Saking baiknya sampai semua teman sekolah mengata-ngatai “iih.. hebat loh pacarannya sama anak pendeta.” Loh? Sorry ya, pertama saya gak pacaran sama dia. Kedua, memang kenapa kalau pacaran sama anak pendeta? Apakah itu berarti saya jadi lebih suci? Ah kayaknya gak juga deh.

Sewaktu SMA saya berteman erat dengan 4 orang yang bervariatif baik dalam kemampuan otak maupun kepribadian. Ada yang Buddha, ada yang Kristen, ada yang Islam, ada yang Katolik. Kami tidak pernah mempermasalahkan agama, karena pada saat itu saya bersekolah di SMA favorit yang sebetulnya dikhususkan untuk anak-anak berotak encer. Saya, yang sebetulnya berotak encer namun tidak punya kemauan keras untuk jadi pandai, tentu saja jadi ngos-ngosan berusaha menyamai posisi teman-teman dalam perolehan ranking. Kalau tiba waktunya bulan Ramadhan, teman saya yang Islam santai saja berpuasa, sementara kami santai saja makan di depan dia. Pada saat itu, agama bukanlah satu hal yang penting buat kami. Lebih penting memikirkan siapa yang kali ini dijadikan tumbal untuk dikirim ke olimpiade fisika berikutnya.

Dan kami baik-baik saja. Pertemanan masih tetap terjaga sampai saat ini, dan bahkan setelah teman saya si Islam itu menanggalkan keIslamannya (karena alasan pribadi, saya tahu sebabnya tapi kalau anda ingin tahu, silahkan Tanya sendiri sama dia), kami tidak lantas menuding “Nanti gak masuk surga lu…” Biasa saja. Dia tetap teman kami, terserah mau beragama ataupun atheis. Kami malah lebih kawatir akan ke-antipati-annya terhadap lelaki dan pernikahan.

Karena itu saya gak pernah habis pikir, kenapa ada saja orang-orang yang ngotot membela agamanya, sampai pada titik dimana ia maksa orang lain harus menganut agamanya juga.

Dalam benak saya, ini tak ubahnya seperti orang jualan.

“Eh kamu tau gak, TV Sony yang terbaru, Bravia.. keren banget loh. Aku baru beli kemarin. Wiiih gambarnya canggih bener. Kamu mesti punya juga. Gak nyesel deh.”
“Ah masa sih? TV ku Sharp, masih model lama sih. Tapi ok-ok aja kok buat nonton.”
“Sharp? AAhhh.. ketinggalan jaman tuh. Beli Sony dehh. Asli, Sharp mah gak ada apa-apanya.”
“Tapi aku puas-puas aja kok.”
“Percaya deh. Gak bakalan puas kalau udah liat Sony.”
“Tapi kan mahal..”
“Ya ampun, ada uang ya ada rupa lah. Kualitas meen… lu pentingin kualitas apa kesehatan mata?”
“Apa hubungannya?”
“Ah katro. Kalau kualitas gambar Sharp kan gak sebagus Sony. Nanti mata lu cepet rusak. Daripada nanti mesti operasi mata, mendingan skarang boros dikit, beli Sony.”

Atau ada yang pernah terjebak ditawari bisnis MLM? Saya pernah.

“Cita-cita lu apa?”
Tentunya ini pertanyaan jebakan. Namun karena saya cukup lugu dan tolol, maka saya jawab saja sekenanya.
“Jadi kaya raya.”
Tentu, siapa yang tidak mau? Dan memang benar, tanpa malu saya akan mengakui kalau cita-cita saya memang jadi nyonya besar yang kaya raya. Amin.
“Nah. Lu pilih mana, jadi kaya pada saat elu umur 80 tahun, atau jadi kaya sekarang?’
Lagi-lagi jebakan batman, dan lagi-lagi saya cukup lugu dan tolol untuk menjawab dengan lantang:
“Ya sekarang lah!”

Dan setelah itu saya harus menghabiskan 2 jam waktu saya menghadiri seminar MLM dimana semua orang terlihat antusias dan hiperaktif, gigi-gigi putih berderet rapi tersembul dari mulut yang tersenyum lebar, dan ruangan penuh dengan suara tepuk tangan yang membahana setiap ada yang berdiri baik untuk memberikan presentasi, menerima penghargaan, atau sekedar mau ke WC. Belum cukup itu, saya juga harus menghabiskan waktu 6 bulan kedepan untuk main petak umpet dengan teman saya yang menawari itu. Semua karena saya tidak tega untuk bilang apa pendapat saya mengenai bisnis MLMnya itu.

Lucu? Memang. Tapi tidak lucu kalau yang ditawarkan adalah agama. Coba bayangkan percakapan ini.

“Agama gua lebih enak Ren. Gak sekolot dan sekaku yang orang kira kok. Buktinya banyak kok yang pindah ke agama gua, dan betah. Malah kadang mereka yang pindah sekarang malah jadi lebih taat daripada gua yang asli dari lahir.”

Jawaban apa yang akan anda beri sekiranya ada yang ngomong gitu ke anda? Kalau saya sih akan menjawab dengan santai. “Aduuh.. gimana ya? Di agama lu Tuhannya gak gondrong sihhh.” Karena kalau saya menjawab dengan serius kenapa saya menganut agama yang saya anut sekarang… wih bisa panjang akibatnya. Bisa-bisa waktu 6 bulan saja tidak cukup, dan bukan tidak mungkin malah akan terjadi perang nuklir karena saling ngotot agamanya yang paling benar. Cape kan? Lagipula daripada nanti saya dibilang kualat lagi, mendingan diam saja lah. Apalagi saya juga bukan orang yang sabar dan telaten dalam menjabarkan sesuatu. Lebih gampang untuk menjawab yang singkat dan undebateable aja.

Jangan salah, saya tidak melarang orang pindah agama. By all means, silahkan. Asalkan memang yakin dengan pilihannya. Dan kalau sudah yakin, ya mbok dipegang keyakinannya, supaya nantinya kalau datang yang lebih bagus dan kinclong, hati tidak mudah goyah dan tergoda. Saya juga tidak melarang kalau ada yang berusaha menggaet saya masuk keyakinannya. Sah saja. Asal jangan marah, ya, kalau saya bilang Tuhannya situ gak gondrong.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s